Belajar dari Jamur

Ketika membaca sebuah artikel online buah tangan Hernowo, saya terkejut, ada sebuah buku karangan seorang doktor Thailand yang berjudul Belajar dari Monyet. Ternyata, isinya cukup menggugah –menurut Hernowo. Diceritakan bahwa, sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari makhluk yang satu ini. Dari sini saya kemudian berfikir, bahwa segala sesuatu yang Tuhan ciptakan bisa kita jadikan bahan bertafakur –merenung. Merenung, tentunya untuk memahami mahkluk tersebut dan membuat kita menjadi lebih baik.

 

Kita sebagai manusia, diberi kelebihan oleh Tuhan, yaitu berupa akal, yang tidak Tuhan berikan kepada mahkluk lain ciptaanNya. Potensi ini haruslah digunakan secara maksimal oleh manusia, sebab potensi akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akallah, manusia menjadi lebih mulia dari makhluk lainnya, tetapi jika tidak digunakan, manusia bisa menjadi lebih hina daripada binatang.

Lihatlah kenyataan saat ini, banyak manusia yang berkelakuan lebih bejat daripada binatang, sebutlah membunuh anak sendiri, membunuh orang tua sendiri, dan sebagainya. Ini adalah akibat dari penggunaan potensi akal yang salah.

Lingkungan tempat kita berada, ternyata memainkan peran penting terhadap pembentukan karakter kita. Orang bijak bertutur “jika ingin mengetahui seseorang, lihatlah teman-temannya”. Artinya jika kita berteman dengan penjahat, maka kemungkinan besar orang lain akan menilai kita sebagai penjahat pula, padahal ini belum tentu benar. Begitu pula sebaiknya.

Banyak yang bisa kita manfaatkan dari lingkungan tempat kita berada, dan kita bisa menjadi orang yang bersahaja jika kita dapat memanfaatkan lingkungan dengan bijak. Seperti halnya jamur. Seperti kita ketahui, jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil. Klorofil adalah zat hijau daun yang berfungsi pada proses fotosintesis. Tanpa klorofil, maka tumbuhan tidak dapat memproduksi ‘makanan’. Nah, bagaimana mungkin sebuah tumbuhan tanpa klorofil dapat hidup. Apa lagi dimusim hujan, jamur akan tumbuh subur dimana-mana –termasuk pada kulit kita.

Jamur tidak pernah mengeluh mengenai klorofil yang tidak dimilikinya. Tetapi toh, dia dapat bertahan hidup, bahkan banyak diantaranya dapat bermanfaat bagi manusia. Sudah saat, kita banyak belajar dari jamur, yaitu belajar tidak banyak mengeluh dan belajar bagaimana memanfaatkan lingkungan untuk kemaslahatan umat.

Kondisi saat ini, memang sangat memungkinkan untuk banyak mengeluh. Kurang inilah atau kurang itulah. Tetapi kalau kita cermati, ternyata banyak yang bisa kita lakukan untuk dapat keluar dari kesulitan-kesulitan ini.

Jamur tidak mempunyai klorofil, lantas bagaimana dia makan. Ternyata jamur hidup ditempat yang memungkinkan dia hidup. Jamur dapat hidup dipohon tumbang. Pohon tumbang yang oleh manusia dianggap sampah ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh jamur. Dan dari batang pohon inilah jamur mendapatkan makanannya. Di sini kita bisa ambil pelajaran bahwa kita juga dapat memanfaatkan lingkungan, asalkan jangan banyak mengeluh, seperti yang dilakukan jamur. Kondisi yang serba sulit, kita jadikan pijakan untuk bangkit. Kesulitan ekonomi, bisa kita jadikan bahan evaluasi, mengapa rejeki nomplok tidak kunjung mampir pada diri kita, mungkin ada sesuatu yang salah dalam menjemput rejeki tersebut. Mungkin caranya atau tempatnya yang kurang tepat.

Yang kita perlukan saat ini adalah motivasi untuk berbuat kearah yang lebih baik ini. Jamur saja bisa, seharusnya kita bisa melakukannya.

Tetapi ingat, tidak semua jamur itu baik, ternyata ada juga jamur yang mengandung racun. Jika kita lihat perbandingan jamur yang bermanfaat dengan jamur yang mengandung racun, ternyata jamur yang mengandung racun jauh lebih sedikit daripada jamur yang bermanfaat.

Sayangnya kebanyakan orang di negeri ini banyak meniru jamur yang beracun. Artinya dia benar-benar “memanfaatkan” lingkungan untuk kepentingan pribadi. Sehingga lingkungannya menjadi teracuni. Nah jamur-jamur inilah yang seharusnya kita berantas. Jamur-jamur inilah yang menghambat jamur-jamur bermanfaat dapat berkembang.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjadi jamur yang bermanfaat dan dapat menggunakan potensi akal yang diberikan Tuhan secara maksimal, sehingga kita semua bisa keluar secepatnya dari kondisi yang carut marut ini. Semoga bermanfaat.

One Response to Belajar dari Jamur

  1. Mang Kumlod says:

    Wah baru ngeh kalau jamur ga punya daun.
    Jadi inget hari minggu kemaren, Ko. Gw makan pepes jamur di warung tenda sekitar Gazibu. Pulang-pulang nyeuri beuteung… lada pisan meureun… *hiks*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: