Video Kekerasan

Akhir pekan kemarin, kita dikejutkan dengan banyaknya video dengan adegan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi, oknum TNI dan oknum dalam dunia pendidikan. Sebringas itukah saudara-saudara kita?

Yang pertama saya dikejutkan oleh beredarnya video penyiksaan junior oleh senior dalam lembaga kepolisian yang terhormat di Sulawesi Tengah. Dalam video yang ditayangkan berkali-kali di sebuah TV swasta, saya melihat bahwa adegan tersebut bukanlah adegan rekayasa, seperti yang diklaim oleh mabes POLRI. Saya memang hanya melihat video tersebut dari TV, tapi sebodoh-bodohnya orang yang menontonnya pasti akan menganggap bahwa adegan tersebut adalah asli (beneran). Jadi pak polisi yang terhormat, kalo memang adegan tersebut memang benar adanya, ya bilang saja benar, nggak usah pake alasan adegan itu cuma rekayasa. Lucunya walaupun di klaim sebagai adegan rekayasa, proses hukum terhadap aktor terus berjalan. Jadi rakyat dibuat nambah bingung.

Video yang kedua adalah video kekerasan yang diperagakan oleh oknum TNI. Berbeda dengan video polisi, video TNI boleh dibilang cukup berani, karena mengambil setting di halaman sebuah asrama. Lagi-lagi oleh pejabat TNI yang berwenang, video ini diklaim bukan merupakan anggota TNI yang melakukannya dan bukan di lingkungan asrama TNI. Beliau (saya lupa namanya) mengatakan bahwa siapapun bisa membuat video tersebut, seragam TNI dijual bebas di pasaran, dan sudah banyak tempat yang mirip dengan asrama TNI. Jadi mana yang benar? Hanya Dia yang tahu.

Yang terakhir muncul dari kalangan pendidikan. Pada salah satu video digambarkan seorang guru menampari beberapa siswanya, entah karena kesal dengan kelakuan siswanya atau memang watak gurunya yang memang demikian. Bisa jadi tamparan itu bagian dari mendidik siswanya. Tapi masalahnya masih relevankan hukuman (tamparan) dengan kondisi dunia pendidikan saat ini? tidak adakah cara lain untuk menghukum siswa?

Video lainnya muncul dari siswa. Langsung beberapa video yang tersebar. Video yang diperagakan siswa-siswi tersebut adalah video perkelahian antar pelajar. Kalo tidak salah, dua video diaktori oleh siswi. Geram… mengapa orang-orang disekelilingnya tidak berusaha melerai, tapi justru menyemangati? Ah… kemana ilmu yang telah diperoleh di bangku sekolah? bukankah setiap minggu belajar Agama (walaupun hanya 2 jam pelajaran)? bukankah setiap minggu mengikuti bimbingan konseling?

Kalo sudah seperti ini jadi mau menyalahkan siapa? saya nggak akan menyalahkan siapa-siapa. biarlah ini menjadi bahan evaluasi bagi kita semua. hanya saja, kita harus berpikir keras agar di kemudian hari kejadian-kejadian tidak beradab dan tidak berpendidikan ini tidak terulang lagi di mana pun.

Bagaimana caranya? saya sendiri belum tahu jawabannya. Ada blogger yang bisa memberikan usul?

10 Responses to Video Kekerasan

  1. ilham says:

    filter pertama sebenarnya adalah pendidikan agama di lingkungan keluarga, … btw, salam kenal …kunjungi saya

  2. aribicara says:

    Yup sepakat dan sebuah sikap yg Bijak dalam menyikapi gejala2 yg terajadi di masyarakat saat ini, khususnya soal masalah Video2 yg burux itu😀

    Tapi masyarakat juga terus membantu untuk memberi dan mencoba menyadarkan orang lain juga disekitar kita yang tentunya diawali dari diri kita sendiri🙂

    Salam🙂

  3. ya kasih lah says:

    ah kalo kata gw itu mah udah watak dari orang2 itu. coba bayangkan andaikata mereka sedari kecil sudah diajarkan tentang KASIH, bukan diajarkan tentang CINTA. sudah dipastikan mereka tidak akan memiliki watak untuk saling menyakiti yang lain. karena perlu diingat cinta itu bisa sangat menyakitkan berbeda dengan kasih…….gimana setuju?

  4. omiyan says:

    ya seharusnya sekarang masyarakat kompak mencegah hal seperti ini, kalo bukan kita siapa lagi

  5. husnun says:

    Masing-masing kita memberi contoh untuk tidak berbuat kekerasan, sebab kekerasan itu menular. Anak yang dikerasi di rumah, dia akan dendam suatu saat akan berbuat yang sama. Kalau masing-masing keluarga bertekad untuk menghindarkan kekerasan, insyaallah bisa mengeliminir tindak kekerasan yang sekarang sudah menjadi menu sehari-hari. Stop kekerasan, sekarang

  6. Tuyi says:

    Pada mo nyaingin Jet Le kali…

  7. nh18 says:

    Mas Eko …
    Saya prihatin sekali dengan hal ini …
    Terutama kekerasan yang di sekolah itu mas …

    Aku ndak habis fikir … apa yang sebenarnya ada dalam kepala mereka …
    Kalau sudah begini … pingin rasanya … mengusap kepala mereka – mereka …
    mengajak bicara mereka …
    mengajak main band mereka …
    ngajak main basket sama-sama …
    atau sekedar kongkow di warung kopi sambil becanda-canda …

    Saya hanya bisa berdoa …
    Semoga semua berjalan kearah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang

    Salam saya

  8. richard says:

    mungkin meneladani pemimpin diatasnya🙂

  9. husnun says:

    Sudah sehat, Mas ?

    ekoph:
    Alhamdulillah, sudah sehat…

  10. buaskariyah says:

    Trus sebaiknya bagaimana ya… kalau ketika sy pingin lihat berita seperti itu, anakku yang br 2 th ikutan lihat… apalagi pas video geng cewe’ itu lho… Rasane ngeri je…

    ekoph:
    makanya saya males ngurus makhluk yang namanya TV.
    sebisa mungkin kita mendampingi anak kita ketika nonton TV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: