Masa Tenang

April 6, 2009

Hingar bingar kampanye Pemilu Legislatif baru saja usai. Tiga hari setelah masa kampanye ditetapkan sebagai masa tenang. Masa tenang artinya masa yang seharusnya memberikan ketenangan kepada pemilih untuk menentukan pilihannya setelah mendengarkan janji-janji para calon legislatif. 

Tapi bagi para calon legislatif, masa tenang ini bukanlah masa tenang, sebab dalam waktu yang sedikit ini tentunya mereka (caleg, red) masih belum percaya diri dalam menghadapi hari-H nanti. kekhawatiran muncul jika dirinya tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Sebabnya bagi para caleg, tiga hari ini adalah masa tegang. Maka untuk memuluskan dirinya menjadi anggota legislatif, maka masa yang singkat ini digunakan untuk kampanye secara sembunyi-sembunyi. bahkan mungkin juga melakukan serangan fajar, yang intinya mengingatkan sambil membagikan uang. tentunya hal ini melanggar undang-undang. Nah jika rekan-rekan blogger menemukan caleg yang seperti itu jangan pilih dia, sebab jika dia tepilih, maka sudah bisa dipastikan, harus balik modal dulu (ngertikan).

Mari, dimasa tenang (tegang) ini kita renungkan kembali pilihan kita, jangan sampai lima tahun kedepan kita sendiri yang menyesal karena salah pilih. (seperti yang terjadi tahun 2004).

Advertisements

Pemilu Bingung !

March 21, 2009

Sebentar lagi Pemilu legislatif. Tanggal 9 April menjadi tanggal yang sakral bagi para calon legislatif. Nasib ditentukan pada hari H tersebut. Ada yang akan memikul amanah dari rakyat dan seharusnya ada legowo menerima kekalahan. 

Partai peserta Pemilu berjumlah 44 partai, yang terdiri dari 38 partai nasional dan 6 partai lokal Aceh. Masih ingat jelas dalam benak saya ketika tahun 2004, yang ketika itu, kita hanya memilih partai saja. pusing tujuh keliling. apalagi sekarang harus memilih calon legislatif. Bagi saya mungkin menjadi tidak terlalu pusing, karena akses informasi mudah diperoleh, lalu bagaimana dengan yang berada di daerah?

Hal lain, adalah cara memilih. dulu kita sudah terbiasa memilih dengan cara mencoblos. lalu tiba-tiba sekarang aturan yang sudah mendarah daging bagi sebgain besar masnyarakat Indonesia, diubah menjadi dicontreng. sekali lagi untuk penduduk perkotaan, mungking tidak masalah, tapi bagaimana dengan sahabat-sahabat kita yang berada di pelosok?

Beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman dari Partai Kanan ataS mencoba melakukan sosialisasi pemilu. tempat yang kita pilih adalah di kelurahan Setiamanah Cimahi. sudah tau dong kalo cimahi ini sudah menjadi Kota. tapi apa yang kami temukan? ternyata banyak warga yang belum mengetahui cara memilih pada pemilu sekarang! wah kaget bukan main, pada ini Kota. lalu kami juga mencoba memperagakan cara memilih. kami bawa duplikat kertas suara, ketika kami buka, banyak warga yang mengomentari ukuran kertas suara yang sebesar kertas koran, belum lagi cara melipatnya yang membingungkan.

Ada satu penelitian yang menghasilkan bahwa seorang pemilih memerlukan waktu sekitar 3 – 4 menit untuk berada di bilik suara. jika dalam satu TPS ada 400 pemilih dan memiliki 4 bilik, maka proses pemilihan berlangsung sekitar 6 jam tanpa henti. wuih… cukup melelahkan bukan? belum lagi proses penghitungan suara. Ingatkah kawan, tahun 2004 yang hanya memilih partai, proses penghitungan suara bisa berlangsung hingga tengah malam. lha sekarang bagaimana?

Selain pemilih, ternyata KPU sendiri masih bingung dalam mempersiapkan pemilu kali ini. misalnya dalam penentuan suara sah. awalnya KPU membuat peraturan bahwa suara sah adalah yang hanya sekali contreng. tapi kemudian diperbaharui bahwa kartu suara yang dicontreng dua kali pada nama dan nomor partai juga dianggap sah, dan beberapa hal lain yang menyangkut sahnya suara.

Jadi demokrasi yang sedang kita bangun, kita bangun di atas kebingungan. tapi walaupun bingung semoga kehidupan berdemokrasi kita semakin dewasa, semakin baik, semakin memikirkan rakyat. Tapi sahabat jangan bingung milih partainya, saran saya pilih saja Partai Kita Semua yang Peduli Kepada Sesama, nanti di bilik suara partai ini ada di nomor 8 (depalan) letaknya ada di Pojok Kanan ataS.


Kampanye

January 16, 2009

Menjelang pemilu legislatif yang akan diselenggarakan pada 9 April 2009 nanti, partai politik dan para caleg sudah pasang kuda-kuda, bahkan beberapa sudah berperang layaknya minggu depan akan pemilu.  Berbagai foto terpajang di semua sudut kota, mulai dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran sangat besar, yang menurut saya cenderung mengotori kota.

Berbagai cara telah dilakukan oleh partai politik dan para caleg untuk mendulang suara pada pemilu nanti.  Mulai dari yang berbaik-baik dengan konstituennya hingga black campaign.  Tudingan-tudingan dilancarkan pada lawan politiknya guna menjatuhkan citra.  

Kalo tidak salah, yang dimaksud dengan kampanye menurut UU adalah suatu bentuk pemberitahuan (pengumuman) visi misi kepada konstituen, atau juga mengajak untuk memilih suatu pilihan tertentu.  Jika memang benar demikian, maka selama tidak membeberkan visi misi dan mengajak ‘mencontreng’ maka apapun bentuknya bukanlah merupakan suatu kampanye politik.

Berkaitan dengan kampanye, dalam waktu dekat ini, KPU akan mempersilahkan Partai Politik untuk melakukan kampanye terbuka. Ada yang salah kaprah dengan masyarakat Indonesia mengenai kampanye ini. Kampanye bertujuan untuk membeberkan visi dan misi partai politik dan atau calon legislatifnya. Kesempatan ini seharusnya digunakan oleh para pemilih untuk menilai calon pilihannya. sehingga sangat mungkin seorang pemilih akan hadir di beberapa kampanye yang berbeda. Tapi apa yang terjadi di tengah masyarakat kita bahkan dalam tubuh Parpol? Ada anggapan jika si A sudah mengikuti kampanye partai A, maka jika si A hadir dalam kampanye Partai B, C .. akan dianggap aneh atau dinggap linglung oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari masyarakat, tentunya Parpol harus memberikan pendidikan politik, setidaknya melalui kampanye. jangan menjadi kecewa atau marah karena simpatisannya hadir dalam kampanye Parpol lain. Justru dalam kampanye inilah seorang pemilih menilai dan akhirnya menjatuhkan pilihannya pada saat 9 April nanti.