Video Kekerasan

February 23, 2009

Akhir pekan kemarin, kita dikejutkan dengan banyaknya video dengan adegan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi, oknum TNI dan oknum dalam dunia pendidikan. Sebringas itukah saudara-saudara kita?

Yang pertama saya dikejutkan oleh beredarnya video penyiksaan junior oleh senior dalam lembaga kepolisian yang terhormat di Sulawesi Tengah. Dalam video yang ditayangkan berkali-kali di sebuah TV swasta, saya melihat bahwa adegan tersebut bukanlah adegan rekayasa, seperti yang diklaim oleh mabes POLRI. Saya memang hanya melihat video tersebut dari TV, tapi sebodoh-bodohnya orang yang menontonnya pasti akan menganggap bahwa adegan tersebut adalah asli (beneran). Jadi pak polisi yang terhormat, kalo memang adegan tersebut memang benar adanya, ya bilang saja benar, nggak usah pake alasan adegan itu cuma rekayasa. Lucunya walaupun di klaim sebagai adegan rekayasa, proses hukum terhadap aktor terus berjalan. Jadi rakyat dibuat nambah bingung.

Video yang kedua adalah video kekerasan yang diperagakan oleh oknum TNI. Berbeda dengan video polisi, video TNI boleh dibilang cukup berani, karena mengambil setting di halaman sebuah asrama. Lagi-lagi oleh pejabat TNI yang berwenang, video ini diklaim bukan merupakan anggota TNI yang melakukannya dan bukan di lingkungan asrama TNI. Beliau (saya lupa namanya) mengatakan bahwa siapapun bisa membuat video tersebut, seragam TNI dijual bebas di pasaran, dan sudah banyak tempat yang mirip dengan asrama TNI. Jadi mana yang benar? Hanya Dia yang tahu.

Yang terakhir muncul dari kalangan pendidikan. Pada salah satu video digambarkan seorang guru menampari beberapa siswanya, entah karena kesal dengan kelakuan siswanya atau memang watak gurunya yang memang demikian. Bisa jadi tamparan itu bagian dari mendidik siswanya. Tapi masalahnya masih relevankan hukuman (tamparan) dengan kondisi dunia pendidikan saat ini? tidak adakah cara lain untuk menghukum siswa?

Video lainnya muncul dari siswa. Langsung beberapa video yang tersebar. Video yang diperagakan siswa-siswi tersebut adalah video perkelahian antar pelajar. Kalo tidak salah, dua video diaktori oleh siswi. Geram… mengapa orang-orang disekelilingnya tidak berusaha melerai, tapi justru menyemangati? Ah… kemana ilmu yang telah diperoleh di bangku sekolah? bukankah setiap minggu belajar Agama (walaupun hanya 2 jam pelajaran)? bukankah setiap minggu mengikuti bimbingan konseling?

Kalo sudah seperti ini jadi mau menyalahkan siapa? saya nggak akan menyalahkan siapa-siapa. biarlah ini menjadi bahan evaluasi bagi kita semua. hanya saja, kita harus berpikir keras agar di kemudian hari kejadian-kejadian tidak beradab dan tidak berpendidikan ini tidak terulang lagi di mana pun.

Bagaimana caranya? saya sendiri belum tahu jawabannya. Ada blogger yang bisa memberikan usul?

Advertisements